Jumat, 04 Oktober 2013

CIKAL BAKAL KALIBAWANG
(Oleh Faizin)

Diperkirakan bertepatan dengan masa pergolakan perang diponegoro antara tahun 1825-1830 di Daerah Ledok (Wonosobo sekarang) merupakan basis pertahanan tentara pejuang kemerdekaan yang berasal dari daerah Ngayokartohadiningrat, dan daerah-daerah lain disekitarnya, diantaranya dari Bagelen, Lowano dan lain-ain terdesak kebenarannya oleh pejajah belanda. Dalam perjalananya menyingkir ke dadaerah aman sambil menyebarkan agama islam di desa-desa yang dilewati atau disinggahi antara lain yang menuju kearah barat, melewati  daerah Salaman Desa Wuwuharjo, Desa Tegalgot, Kalilusi dan seterusnya sampai ke kota Wonosobo.
Konon berdasarkan cerita para sesepuh di Kalibawang bersama dengan perjalanan sejarah tersebut diatas, tersebutlah Raden LUKITO, seorang pengelana, yaitu putra salah satu dari ADIPATI LOANO, beliau melakukan pengelanaan setelah mendapatkan ijin dari kedua orang tuanya, bersama seorang abdi dengan pangkat Bekel.
Sebelum berangkat R. LUKITO menerima pesan dari sang Adipati, diantaranya agar dalam pengelanaan tersebut supaya berjalan menelusuri sungai Gowong yaitu sungai yang membelah dua Desa Karangsambung (sekarang ), menuju kearah hulu, dan apabila dikemudian hari ditemukan / dijumpai pohon mbawang (sejenis poho mangga) disuruh berhentidan disitulah diperintahkan untuk bertmpat tinggal atau bermukim, kemudian setelah berhari-hari melewati perjalanan panjang dan melelahkan sampailah ketempat yang dituju, dan disitu akhir pejalanan R. LUKITO dan KI BEKEL.
Selanjutnya kedua pengelana tersebut mulai membuka hutan disekitarnya dengan peralatan yang sangat sederhana. Pada suatu ketika R. LUKITO membabat semak belukar tersebut yang cukup lebat, lalu terperosok ketengah atau kedalam belukar tersebut, maka dalam suatu kepanikan, terkejutlah R. Lukito setelah melihat dan mengamati di sekelilingnya, terdapat puing-puing kayu yang masih berdiri, dan ternyata adalah bekas bangunan rumah tua yang terbuat dari kayu nangka dan atap ijuk berbentuk rumah joglo (brunjung) rumah khas jawa dan didalamnya terdapat pula meja bundar yang berukuran besar serta kursi goyang.
Disinilah kiranya R. Lukito mendapatkan firasat untuk menempati rumah tua, sebagaimana pesan yang dapat ditangkap dari sang ayah (Adipati Loano), kemudian sebagai tetenger tempat tersebut diberi nama Desa Kalibawang, yaitu diambil dari nama Kali (sungai) yang ditepinya ditumbuhi pohon mbawang, dan tepatnya lokasi tersebut sekarang adalah rumah salah satu pewaris keturunan ke VI dari R. Lukito yaitu Ibu Sumartasih Budiyuwono. Sedangkan bekas rumah dan sebagian perabot rumah tangganya sudah raib dari tangan ahli warisnya, termasuk pusaka-pusaka peninggalannya.
Perkembangan selanjutnya Desa Kalibawang menjadi tempat perkampungan baru, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk yang menempati sekitar desa tersebut, maka R. Lukito dipercaya menjadi penguasa desa dengan pangkat Demang I (pertama) di Kademangan Kalibawang, yang sekaligus merupakan cikal bakal pendiri Desa Kalibawang, sedangkan Desa Kalibawang adalah merupakan daerah wewengkon atau wilayah pemerintahan kecamatan Sapuran, pada waktu itu dengan gelar DEMANG KERTOPRAWIRO I.
Sebagai penguasa, R. Lukito atau Demang Kertoprawiro I mempunyai istri bernama R. NGT. Danuwijoyo atau Nyai GOBER atau Nyai KOPEK, nama panggilan ini lebih dikenal oleh masyarakat karena beliau mempunyai payudara yang besar dan panjang (kopek), sehingga apabila menyusui putra-putrinya cukup digendong di belakang.
Menurut cerita, Nyai Kopek (Nyai Gober) merupakan putri pemberian (hadiah) dari Keraton Surakarta yaitu putri keturunan/Grat ke IV dari Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhanan Prabu Mangkurat Djowo Senopati Ing Alogo Kartosuro, sehingga wajar apabila Nyai Kopek mempunyai kelebihan/kesaktian yang linuwih. Salah satu cerita ini diriwayatkan, yaitu ketika Ki Demang menyuruh istrinya mengambilkan api di dapur untuk menyalakan rokok, maka diambillah bara api kayu galar langsung dengan tangannya dari tunggu/luweng dan diletakkan di ujung kain (jarik/nyamping) Nyai Kopek kemudian diberikan kepada Ki Demang, ternyata apa yang terjadi, bahwa tangan Nyi Kopek tidak merasakan panas serta kain yang dipakainya tidak terbakar sedikit pun, dan Ki Demang sendiri tidak berani mengambil bara api tersebut seperti yang dilakukan Nyai Kopek.
Ucapan-ucapan atau kata-kata Nyai Kopek yang sampai sekarang masih diyakini diantaranya adalah ketika siang hari beliau mandi di sungai Gowong dengan rambut yang terurai di bantaran air sungai, tiba-tiba rambut beliau dibelit-belit ikan tombro yang besar, sehingga rambut beliau nyaris sampai rontok. Setelah kejadian itu beliau berwasiat bahwa anak cucu dan keturunannya kelak banyak yang berkepala botak.
Selanjutnya Ki Demang karena merasa malu, melihat kesaktian istrinya, pada suatu hari Ki Damang, berpamitan untuk bertapa di Gunung Gematung yang terletak di Desa  Dempel dengan banyak misterinya (sebelah barat Desa Kalibawang) menjulang tinggi sekitar ± 200 m sebagai lambang perkasaan masyarakat Desa Dempel.
Konon menurut ceritanya pada waktu melakukan pertapaannya selama  40 hari, tubuh Ki Demang masih kelihatan dari luar, namun setelah 40 hari kemudian sudah tidak nampak lagi, karena sudah tertutup pepohonan dan dedaunan yang semakin lebat, pertapaan tersebut dilakukan selama kurang lebih 3 tahun lamanya. Pada akhir pertapaan Ki  Demang pulang kerumah, namun karena badan sudah kurus kering tanpa daya, sehingga perjalananya melayang bagaikan daun dihembus angin kencang  dan jatuh di depan regol atau pintu rumah.
Setelah Nyai Kopek melihat R. Lukito pulang, maka utusan/perintah kepada kedua Abdinya untuk memapah Ki Demang yang sudah tidak berdaya itu masuk rumah, tetapi ternyata tidak kuat mengangkatnya walaupun tubuhnya tinggal tulang dibalut kulit. Kemudian Nyai Kopek sendirilahyang membopongnya dan ditidurkan di atas tikar dipinggir dapur (pawon/luweng) tempat nyai kopek memasak. Untuk membangkitkan kembali tenaga Ki Demang, selama beberapa hari berturut-turut hanya diberi asap (kebul liwetan nasi), air beberapa sendok, lalu bubur selama 40 hari, kemudian baru Ki Demang sedikit demi sedikit dapat bangun kembali. Suatu keajaiban setelah tubuh Ki Demang menjadi sehat, kulit Ki Demang dapat dilepasakan seperti baju (mlungsungi), dan kulit tersebut dapat dicantelkan pada paku gantung, kono ceritanya setelah Ki Demang meninggal, kulit tersebut dianggap benda yang bertuah dan sangat dikeramatkan, bahkan setiap hari-hari tertentu, seperti jum’at kliwon dan selasa kliwon dibakar kemenyan (dupo). Namun pada oerkembangan selanjutnya besama dengan semakin dalamnya pemahaman agama Islam, maka kebiasaan tersebut akhirnya dihilangkan. Kulait wlungsaungan tersebut akhirnya di simpan ditempat khusus (besek) yang sewaktu-waktu dapat dilihat, dan sekarang sebagian berada ditempat Bapak Supriyarto. As (salah satu pewaris). Menurut hasil dari pertapaan tersebut, Ki Demang memeprolehsepucuk pusaka bernama Keris Lintang Kemukus, dan pusaka tersebut diwariskan secara turun temurun, namun sampai sekarang belum diketahui siapa yang menyimpannya.
Pada waktu R. Lukito (Demang Karto Prawiro) bertapa, Kademangan Kalibawang terjadi huruhara dengan prajurit kalilusi yang dipimpin oleh Demang Kalilusi sendiri, pertempuran antara kedua kademangan terjadi di Kotak Ombo (sebelah selatan atau Dukuh Sabrang Kidul desa Kalibawang). Para Para Prajurit(abdi) dari kalibawang merasa kerepotan, maka diperintahkan untuk mundur oleh Ny. Kopek. Dan beliau lah yang akan menghadapi sendiri. Dalam peperangan tersebut Ny. Kopek hanya bersenjata Tombak sebesar buah pucung dan peralatan dapur sperti : muntu, irus, centong dan lain sebagainya berjalan sendiri bagaikan pasukan perangnya, namun dengan peralatan perang tersebut, prajurit kalilusi sendiri saling menyerang, dan akhirnya Demang Kalilusi sendri tewas dalam pertempuran tersebut, kemudian sisa prajurit kalilusi yang masih selamat tunggang langgang lari kembali ke Kalilusi. Perkembangan selanjutnya tntang riwayat Ny. Kopek  tidak diketahui secara pasti kapan meninggalnya dan dimana makamnya. Namun ada beberapa versi yang berpendapat antara lain pertama : bahwa Ny. Kopek pada usia lanjut kembali ke Surakarta.pendapat tersebut diyakini setelah sebelum wafatnya salah satu keturunan Kertoprawiran bernama Ir. Sugeng, M. Si (Osen Universitas Jendral Soedirman Purwekerto tahun 2005) mendapatkan firasat goib berkomunikasi sendiri dengan arwah Ibu R. Ngt. Danuwijaya bahwa beliau meningal setelah sampai di Surakarta dan di makamkan di komplek raja-raja Keraton Surakarta.
Ada versi yang memperkirakan bahwa beliau meninggal dunia dalam perjalanan menuju Surakarta di Desa Kaliwungu Kecamatan Bruno, beliau meninggal dan di makamkan di Desa tersebut karena dimakam tersebut sampai sekarang masih dipundi-pundi oleh penduduk setempat sebagai tempat di kramatkan. Versi lain menceritakan bahwa Ny. Kopek ( Ny. Gober) meninggal di Dusun Gedongan Desa Tempurejo dan di makamkan di Dusun Gedongan, namun saat itu jenazah  Ny. Kopek jadi rebutan dengan masyarakat Kalibawang, sehingga pada suatu ketika jenazahnya dicuri oleh masyarakat Kalibawang yang merasa bahwa beliaulah tokoh dan panutan yang disegani di Kalibawang, sehinga yang merasa lebih berwenang dan akhirnya disemayamkan di pemakaman umum Dusun Kalibawang, bersama denan abdinya (Ki Bekel). Dan berada dalam satu kelomplek dengan makam Demang Kertoprawiro II dan istri serta kerabat keturunan Kertoprawiran lainnaya. Dari ketiga vesi tersebut belum bisa dipastikan tentang makam beliau sampai sekarang.
Hubungan pemerinatahan saat itu antara Kalibawang dengan Kraton Surakarta sangat baik, sehingga pada stiap saat Demang Kertoprawiro secara rutin mengirimkan upeti(bulu bekti) sebagai pertanda kepatuhan rakayat kepada rajanya.
Menurut kabar, bahwa perkawinannya dengan R. Lukito (Kertoprawiro I) dengan Ny. Kopek (Ny. Gober) dikaruniai beberapa putra, sebagai penerus keturunan di Kademangan Kalibawang salah satu putranya dengan gelar Kertoprawiro II. Sedangkan Demang Kertoprawiro I(R. Lukito) meninggal di Kalibawang dan di makamkan di Dusun Gemantung.









Sumber :
1.    Drs. Sugeng Haryadi
2.    Riwi Digdo

3.    Arsip keluarga Kertoprawiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar